Ulat Grayak Jagung, Mengancam Produksi Jagung Nasional

Jagung merupakan komoditas yang sangat populer dan hampir seluruh masyarakat mengenal tanaman jagung. Jagung adalah salah satu tanaman pangan terpenting di dunia setelah padi dan gandum. Berbagai negara di dunia menjadikan jagung sebagai sumber karbodidrat utama seperti di Amerika Tengah dan Selatan. Amerika Serikat juga menjadikan jagung sebagai sumber pangan alternatif. Begitu juga di Indonesia, jagung menjadi salah satu alternatif sumber pangan dalam upaya mendorong diversifikasi pangan serta sebagai bahan baku pakan ternak.

Di Indonesia, jagung menjadi salah satu komoditas yang cukup strategis. Jagung banyak digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dipenuhi dari produksi nasional dan impor jagung karena kebutuhan jagung nasional belum sepenuhnya dipenuhi dari produksi jagung nasional (Kementan 2016).

Peningkatan produksi jagung nasional terus diupayakan oleh pemerintah tiap tahunnya. Namun, upaya peningkatan produksi jagung nasional tersebut bukan tanpa hambatan. Banyak hambatan dalam upaya meningkatkan produksi jagung nasional. Selain keterabatasan dalam peningkatan luas lahan dan peningkatan produktivitas jagung. Salah satu hal yang dapat menurunkan produktivitas tanaman jagung yaiitu adanya kendala dalam budidaya tanaman seperti adanya serangan hama dan penyakit yang setiap tahun selalu menjadi kekhawatiran petani. Bahkan pada tahun 2019 ditemukan hama baru di Indonesia yang sangat berpotensi dalam menurunkan produksi padi nasional.

Tanaman Jagung
Tanaman Jagung

Hama Baru Tanaman Jagung di Indonesia

Awal tahun 2019, beberapa peneliti melaporkan ditemukannya hama baru tanaman jagung di daerah Pasaman Barat, Sumatera Barat. Hama baru tersebut adalah ulat grayak jagung Spodoptera frugiperda atau biasa disebut dengan Fall Army Worm (FAW). Hama FAW bisa dikategorikan sebagai invasive alien spesies karena merupakan spesies baru yang berasal dari luar Indonesia dan menyebar dengan cepat dan luas sehingga menimbulkan kerugian yang cukup serius.

FAW merupakan hama yang diduga berasal dari daerah Amerika Selatan dan kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. FAW kemudian ditemukan menginvasi daerah Afrika pada tahun 2016 dan outbreak di daerah India pada tahun 2018. Tahun 2019 FAW ditemukan di Bangladesh, China, Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerang tanaman jagung di Indonesia pada bulan Maret 2019 di daerah Pasaman Barat, Sumatera Barat. Tidak lama setelah hama ini pertama kali dilaporkan, FAW sudah banyak menginvasi sentra produksi jagung di Indonesia dan pada tahun 2020 sudah ditemukan di hampir seluruh sentra produksi jagung nasional.

 

Morfologi dan Siklus Hidup

FAW adalah serangga yang termasuk golongan Lepidoptera atau ngengat yang memiliki beberapa ciri khusus yang membedakan dari golongan Lepidoptera lainnya. FAW memiliki morfologi yang hampir menyerupai Spodoptera litura tetapi memiliki beberapa perbedaan seperti:

  1. huruf “Y” terbalik di bagian kepala,
  2. memiliki empat titik membentuk segiempat dibagian ekor,
  3. garis tebal seperti pita dibagian samping tubuh,
  4. garis berwarna pucat di bagian badan atas.
Ulat Grayak Jagung
Ulat grayak jagung, Spodoptera frigiperda (Fall Army Worm)

Siklus Hidup

FAW merupakan serangga dengan metamorfosis tidak sempurna (holometabola) yang terdiri dari telur, larva, pupa dan imago. Imago FAW berupa ngengat yang memiliki bagian depan sayap berwarna coklat atau keperakan dan sayap belakang berwarna keputihan. Ngengat biasanya aktif terbang pada sore – malam hari. Telur FAW diletakkan secara berkelompok dan diselimuti rambut- rambut halus. Telur tersebut akan menetas menjadi larva setelah kurang lebih 3 hari. Larva yang baru menetas akan bersembunyi di pucuk tanaman dan sangat aktif makan. Stadia larva berlangsung kurang lebih 14 hari dan setelah itu larva akan menjadi pupa. Stadia pupa berlangsung selama kurang lebih 10 hari dan kemudian akan kembali menjadi imago. Seluruh siklus hidup FAW berlangsung kurang lebih selama 30 hari.

Gejala Serangan dan Kerugian

FAW merupakan hama yang sangat merugikan bagi tanaman jagung karena dapat menyerang pucuk, daun dan tongkol. Larva instar 1-4 akan menyerang titik tumbuh tanaman dan akan menyebabkan pucuk tanaman terpotong dan daun berlubang. Larva instar 5-6 dapat menyerang tongkol jagung karena memiliki ukuran tubuh yang lebih besar. Serangan FAW dapat menyebabkan penurunan produksi jagung 21-51% dan bahkan dapat menyebabkan gagal panen.

Gejala serangan ulat grayak jagung
Daun berlubang terserang FAW

Pengendalian

Ulat grayak jagung dapat dikendalikan dengan memadukan beberapa pengendalian seperti pengendalian secara kultur teknis, fisik-mekanis, biologis dan kimiawi. Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pergiliran tanam, penggunaan tanaman penghalang, sanitasi lahan dan tanaman terserang. Pengendalian secara fisik-mekanis dapat dilakukan dengan menggunakan perangkap cahaya. Pengendalian secara biologis dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami yang ada di lapangan. Beberapa musuh alami yang ditemukan di lapangan dan dapat mengendalikan FAW yaitu parasitoid telur Telenomus sp. dan Trichogramma sp., serta parasitoid larva Glyptapanteles creatonoti dan Campoletis chlorideae.

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan memanfaatkan insektisida Provide-X 21/45 SC yang berbahan aktif Emmamektin Benzoat + Beta Sipermetrin dengan konsentrasi 1 ml/l. Pengendalian FAW akan lebih efektif jika aplikasi insektisida dilakukan di pucuk tanaman jagung dengan butiran semprot yang kecil dan berkabut karena akan lebih mudah menjangkau hama yang bersembunyi di dalam pucuk tanaman jagung.

Provide-X 21/45 SC
Provide-X 21/45 SC (Emamektin Benzoat 21 g/l + Beta Sipermetrin 45 g/l)

[Kementan] Kementerian Pertanian. 2016. Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan Jagung. Jakarta (ID): Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian.

De Groote H, Kimenju SC, Munyua B, Palmas S, Kassie M, Bruce A. 2020. Spread and impact of fall armyworm (Spodoptera frugiperda J.E. Smith) in maize production areas of Kenya. Agriculture, Ecosystems and Environment. 292(2020):1-10. doi:10.1016/j.agee.2019.106804.

Shylesha AN, Jalali SK, Gupta A, Varshney R, Venkatesan T, Shetty P, Ojha R, Ganiger PC, Navik O, Subaharan K, Bakthavatsalam N, Ballal CR. 2018. Studies on new invasive pest Spodoptera frugiperda (Smith) (Lepidoptera: Noctuidae) and its natural enemies. Journal of Biological Control. 32(3). doi:10.18311/jbc/2018/21707.

Baca Juga : Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Tanaman

Demikian Ulat Grayak Jagung, Mengancam Produksi Jagung Nasional.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk seluruh Sobat Tani dimanapun berada.

Salam DGW (Sukses Bersama Petani)

error: Content is Protected!!