Herbisida Pertanian Sebagai Pengendali Gulma

Herbisida Pertanian

Herbisida adalah salah satu bahan yang digunakan untuk mencegah dan mengendalikan gulma. Herbisida dikenal dengan penyiang tanaman yang menjadi senyawa aktif yang disebarkan ke lahan pertanian untuk memberantas gulma. Gulma ini sangat menggangu proses pertumbuhan tanaman, terkadang tanaman di sekitar lahan pertanian mati akibat kemunculan gulma.

Oleh karena itu, tak jarang bila para petani melakukan berbagai cara untuk bisa mengendalikan gulma tersebut agar tidak mencemari tumbuhan padi mereka. Herbisida disebut sebagai bahan kimia yang sering digunakan untuk mengendalikan gulma tersebut.

Proses kerja herbisida yaitu mengganggu proses anabolisme senyawa penting seperti pati, asam lemak atau asam amino melalui kompetisi senyawa yang normal dalam proses. Herbisida dapat mengganggu keseimbangan produksi gulma dengan bahan-bahan kimia yang diperlukan seperti:

  • Glifosat merupakan herbisida sistemik non selektif yang diaplikasikan melalui daun. Bahan kimia ini mempunyai spektrum translokatif yang kuat di dalam tanah. Mampu terdegradasi dalam mengendalikan gulma annual, biennial, dan perennial dari jenis rumput, teki, dan daun lebar. Bahan kimia ini akan bereaksi pada 2 – 4 minggu setelah di aplikasikan (Lamid et al. 1998).
  • Paraquat merupakan herbisida pasca tumbuh yang bersifat kontak. Herbisida ini tidak dapat diserap oleh bagian tumbuhan hijau seperti batang dan akar. Herbisida ini hanya mematikan bagian tumbuhan yang terkena butir semprot saja, sedangkan bagian yang tidak terkena semprot akan tetap normal saja (Moenandir 1990).
  • Penoksulam merupakan herbisida golongan sulfonilurea yang digunakan sebagai pasca tumbuh untuk mematikan tumbuhan sembarang. Keitka sudah ada 3 – 4 daun, maka herbisida ini akan menjadi spektrum kuat yang mematikan. Sifat selektif terhadap beberapa jenis daun (Mobreg dan Cross 1990).
  • Oksifluorfen merupakan herbisida pra tumbuh yang bersifat efektif untuk mengendalikan gulma berdaun lebar atau rerumputan. pada kedelai. Herbisida oksifluorfen bisa membunuh biji gulma yang kemungkinan berkecambah, sehingga biji-biji tersebut tidak bisa tumbuh kembali (Moenandir 1990).

Jika dilihat dari habitatnya, gulma bisa dibedakan menjadi 2, yaitu gulma darat dan gulma air. Gulma darat dapat hidup selama setahun, dua tahun, bahkan beberapa tahun. Sedangkan gulma air hidup terapung di atas permukaan air. Untuk mengendalikan gulma tersebut, diperlukan suatu bahan kimia berupa herbisida pertanian.

Jenis – Jenis Herbisida Pertanian!

  1. Pertama, herbisida berdasarkan selektivitas

Herbisida berdasarkan selektivitasnya terbagi menjadi 2 yaitu selektif dan non-selektif. Herbisida selektif merupakan herbisida yang hanya beracun untuk gulma dan tidak ada pengaruhnya terhadap tanaman. Sehingga herbisida selektif ini biasa digunakan untuk mengendalikan gulma yang tumbuh pada area penanaman seperti gulma pada tanaman padi, gulma pada tanaman jagung dan gulma pada tanaman pokok lainnya. Nah contoh dari herbisida selektif sendiri di antaranya yaitu Avatar 400 SC digunakan untuk mengendalikan gulma pada tanaman padi, dan Venator/Gandewa 550 SC yang digunakan untuk mengendalikan gulma pada tanaman jagung.

Sedangkan herbisida non selektif merupakan herbisida yang beracun untuk seluruh tumbuhan sehingga apabila herbisida ini digunakan dan mengenai tanaman pokok maka tanaman pokok akan terpengaruh dari herbisida tersebut. Salah satu contoh dari herbisida non selektif diantaranya adalah Supremo 480 SL atau Supretox 276 SL. Nah sobat tani bisa gunakan herbisida non selektif Ketika tidak ada tanaman yaa, bisa saat pengelolaan lahan, mengendaikan gulma di pinggir bedengan yang tidak terkena tanaman utama.

Venator/Gandewa 550 SC  Avatar 400 SC

Supremo 480 SL Supretox 276 SL

  1. Kedua, herbisida berdasarkan pergerakan dalam tanaman

Nah selanjutnya ada jenis herbisida berdasarkan pergerakan dalam tanamannya, herbisida ini terbagi menjadi dua yaitu herbisida sistemik dan juga herbisida non sistemik atau biasa dikenal sebagai herbisida kontak. Herbisida sistemik merupakan herbisida yang diserap oleh tanaman dan disebarkan ke seluruh bagian tumbuhan. Herbisida jenis sistemik sangat cocok dipilih oleh sobat tani untuk mengendalikan gulma hingga ke akar-akarnya, contohnya Supremo 480 SL.

Sedangkan herbisida non sistemik atau kontak adalah bahan kimia yang bekerja secara langsung untuk mematikan jaringan tumbuhan yang bandel. Herbisida ini cocok dipilih sobat tani apabila sobat tani ingin cepat dalam mengendalikan gulma tersebut. Contoh herbisida non-sistemik yaitu Supretox 276 SL

  1. Ketiga, herbisida berdasarkan waktu aplikasi

Jenis herbisida besarkan waktu aplikasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu  herbisida pra tumbuh dan juga herbisida pasca tumbuh. Herbisida pra tumbuh merupakan herbisida yang digunakan ketika gulma belum tumbuh biasanya masih dalam bentuk biji. Jadi ketika sobat tani ingin mencegah pertumbuhan gulma pada lahan sobat tani maka sobat tani bisa memilih herbisida jenis ini yaa. Contoh herbisida pra tumbuh yaitu Trendy 20 WG atau Salvatore 12/18 WP.

Sedangkan herbisida pasca tumbuh merupakan herbisida yang digunakan atau diaplikasikan setelah gulma sudah mulai tumbuh contoh dari herbisida pasca tumbuh sendiri diantaranya adalah Digita 150 SL, Supremo 480 SL, Triester 480 EC dan herbisida lainnya.

Adapun susunan herbisida anorganik, meliputi :

  • Ammonium sulfanat : Susunan herbisida anorganik ini memperpanjang masa dormansi hingga cadangan karbohidrat dan gulma menjadi habis dan mati.
  • Ammonium sulfat : Susunan herbisida ini mampu meningkatkan nilai PH pada cairan tumbuhan. Ammonium sangat beracun dan yang membuat tumbuhan mati.
  • Ammonium tiosianat : Pada susunan herbisida tiosianat bisa membuat racun pada sel tumbuhan, sehingga dapat menghambat enzim katalase protein.

Dampak Buruk Penggunaan Herbisida?

Herbisida merupakan bahan kimia yang sering dijumpai di dunia pertanian. Tidak sedikit kasus keracunan herbisida terjadi pada kesehatan manusia maupun makhluk hidup lainnya. Keracunan dapat terjadi karena sengaja terhisap (inhalasi), menelan, atau terkena kulit. Berikut beberapa kejadian keracunan herbisida, baik hewan maupun manusia:

  1. Keracunan Paraquat menyebabkan kematian setidaknya tujuh anjing di Portland, Amerika Serikat. Keracunan ini telah menjadi epidemi di mana terjadi dalam skala cukup besar. Paraquat adalah senyawa beracun dipyridilium (herbisida non selektif) yang masih banyak digunakan  di Amerika Serikat karena efektif dalam lingkungan yang basah dan memiliki keterbatasan potensi pencemaran lingkungan. Tingkat resistensi gulma pun rendah, sehingga banyak digunakan dalam sistem tanaman produksi. Namun, paraquat sangat beracun pada hewan domestik jika tertelan.
  1. Keracunan akibat herbisida juga pernah terjadi pada lima kuda. Perubahan signifikan diamati pada dua kuda setelah pengobatan awal dengan dekstrosa salin 5%, anti-bloat, pheneramine maleat dan tonik hati. Sedangkan tiga kuda lainnya merespon setelah terapi kedua. Gejala hipersalivasi dan timpani menghilang dan hewan kembali normal (sembuh) pada hari ke-3 pengobatan. Anamnese dari kejadian ini memberi petunjuk bahwa kuda-kuda tersebut memperlihatkan gejala-gejala klinis setelah meminum air di sawah yang terpapar dengan herbisida.
  1. Kejadian yang sering terjadi pada manusia yaitu menyebabkan dermatitis exfoliativejaundice, peningkatan enzim hati, dan eosinofilia. Gejala ini timbul satu hari setelah kulit terpapar toksin butachlor. Gejala yang ditimbulkan setelah terpapar herbisida secara oral yaitu muntah, depresi sistem saraf pusat, gangguan saraf dan kardiovaskuler parah dan bahkan kematian.

Masuknya bahan-bahan herbisida ke dalam tubuh manusia dapat melalui beberapa cara yaitu, mulut (terminum/diminum), hidung (terhirup/menghirup), kulit (pori-pori), dan rambut ataupun mata. Misalnya petani menyemprot dengan tidak benar tanpa menggunakan alat pelindung diri, hal ini dapat terkena herbisida tersebut.

Kontak dengan herbisida dapat memberikan efek bakar yang terlihat dalam hitungan menit, karena kandungan asam sulfat 70%, besi sulfat 30%, tembaga sulfat 40%, dan paraquat. Keracunan herbisida akan menyebabkan rusaknya lapisan selaput lendir saluran pencernaan, rasa terbakar di saluran pencernaan, dehidrasi, terganggunya sistem pernapasan. Pada akhirnya menyebabkan korban kejang, muntah, koma akibat kekurangan oksigen, dan kematian mendadak jika tidak segera mendapatkan pertolongan.

Terdapat pula pembagian herbisida menurut mekanisme kerjanya, yaitu :

  • Herbisida yang menghambat fotosintesis tumbuhan.
  • Herbisida yang menghambat kecambahan tumbuhan.
  • Herbisida yang menghambat pertumbuhan tumbuhan.
  • Herbisida yang menghambat respirasi/oksidasi tumbuhan.

Baca Juga : Mengenal Gulma Tanaman Pada Lahan Pertanian

Herbisida merupakan penemuan yang bagus bagi industri pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa zat kimia dapat membunuh gulma dengan tujuan produksi tanaman utama yang sesuai harapan. Herbisida tidak berbahaya bagi manusia maupun hewan, jika masih dalam dosis kecil, karena ukurannya yang jauh lebih besar dari hama pengganggu. Namun, apabila dosis kecil itu terakumulasi dalam jumlah tertentu, tentunya akan sangat membahayakan.

Itulah penjelasan herbisida pertanian berdasarkan jenisnya, mulai dari kegunaan hingga dampaknya. Semoga sobat tani bijak dalam menggunakan herbisida untuk mengatasi gulma pada lahan pertanian. Sehingga hasil panen bisa meningkat dan tumbuhan bebas dari serangan gulma.

Demikian Herbisida Pertanian Sebagai Pengendali Gulma.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk seluruh Sobat Tani dimanapun berada.

error: Content is Protected!!