Cara Mengendalikan Gulma Pada Tanaman Padi

Cara Mengendalikan Gulma

Cara Mengendalikan Gulma? Salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) yang sering muncul di lahan petanian yaitu gulma. Tumbuhan yang kehadirannya tidak diinginkan ini dapat menurunkan hasil panen sekitar 50-70%. Gulma  mampu berkompetisi kuat dengan tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara seperti air, sinar matahari, udara, dan fosfor.

Gulma dapat menyerap nitrogen dan fosfor hingga dua kali, dan kalium hingga tiga kali pada tanaman. Nitrogen dan fosfor ini sangat penting sebagai penyerapan utama tumbuhan. Biasanya tanaman yang kekurangan nitrogen dan fosfor bisa diketahui dengan warna daun yang pucat. Oleh karena itu, perlu memastikan apakah daun pada tumbuhan yang dimiliki sudah memucat atau belum.

Penyebaran gulma memang sangat sulit ditebak, karena bisa muncul begitu saja. Gulma biasa hadir dari sisah pembuaian tanaman, dimana hasil pembuaian tersebut mengendap di dalam tanah dan berkembang menjadi gulma. Gulma ini paling banyak ditemukan pada lahan pertanian, seperti tanaman padi atau sejenisnya.

Gulma ini biasa dikendalikan oleh para petani untuk mencegah tanaman terserang penyakit. Caranya dengan melakukan pengolahan tanah, mengatur air dipetakan sawah, menggunakan benih yang bersertifikat, dan menggunakan kompos sisa tanaman. Banyak petani melakukan cara ini untuk mengendalikan gulma. Namun ada baiknya bila kita mengenal gulma terlebih dahulu.

Contoh Gulma dan Pengendaliannya!

Untuk lebih jelas tentang gulma, beirikut ini contoh gulma pada lahan pertanian, yaitu :

  • Echinocloa crus-galli

Echinocloa crus-galli

Nama Ilmiah : Echinocloa crus-galli

Nama Umum : Jajagoan (sunda); Jawan (jawa); Beteng (bugis)

Morfologi

Echinocloa crus-galli termasuk ke dalam golongan gulma berdaun sempit. Secara morfologi bentuknya sangat mirip dengan tanaman padi pada saat masih muda. E.crus-galli memiliki penampilan tegak, memiliki tinggi sekitar  20-150 cm, bahkan bisa mencapai 200 cm (Galinato et al. 1999 dalam Guntoro, 2012).

Penyebaran

Jenis gulma ini memperbanyak diri secara generatif melalu biji yang seringkali tercampur dengan benih  padi (Galinato et al. 1999). Gulma ini bereproduksi dengan cara penyerbukan sendiri atau penyerbukan silang. E. crus-galli melakukan penyerbukan silang dengan menggunakan bantuan angin. Biji E. crus-galli dapat  menyebar melalui saluran irigasi, hewan, burung, pengangkutan biji padi dan mesin pertanian atau peralatan pertanian lainnya (Itoh, 1991 dalam Guntoro, 2012).

Kompetisi

Gulma E. crus-galli merupakan kompetitor yang sangat kuat terhadap tanaman padi sehingga menurunkan pertumbuhan dan produksi tanaman padi (Chin 2003). Banyaknya populasi E. Crus-galli sangat berpengaruh terhadap penurunan hasil produksi padi. Semakin tinggi populasi gulma E. crus-galli, maka jumlah anakan produktif semakin menurun. Penurunan bobot gabah akibat adanya gulma ini dapat mencapai 48% (Guntoro, 2012).

Pengendalian

Banyaknya populasi gulma E. crus-galli dapat ditekan sejak awal yaitu dengan melakukan pembersihan lahan sawah yang akan digarap sebelum dibajak. Penanaman bibit padi secara jajar legowo juga dapat menekan populasi gulma ini. Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan pestisida dapat dilakukan jika masih ditemukan gulma pada pertanaman padi ketika padi mulai tumbuh.

Pestisida yang efektif untuk mengendalikan gulma  E. Crus-galli yaitu herbisida berbahan aktif sodium bispiribak (AVATAR 400 SC, SALVATORE 12/18 WP) dan 2-4 D (ABOLISI 865 SL). AVATAR 400 SC dan SALVATORE 12/18 WP diaplikasikan ketika padi berumur 7-10 HST atau daun gulma tidak lebih dari 3 daun dengan konsentrasi 1-2 ml/l untuk AVATAR dan 80-100 gr/ha untuk SALVATORE 12/18 WP. ABOLISI 865 SL diaplikasikan ketika padi berumur 20-30 HST atau sebelum pemupukan kedua dengan konsentrasi 2-3 ml/l.

  • Cyperus iria

Cyperus Iria

Nama Ilmiah : Cyperus iria

Nama Umum : Teki sawah, Jekeng

Morfologi

Cyperus iria  termasuk ke dalam golongan gulma teki-tekian. Secara morfologi ketinggian cyperus iria sangat bervariasi dari 8 cm hingga 60 cm, memiliki banyak akar pendek berwarna merah kekuningan. Daunnya berbentuk garis lurus, biasanya lebih pendek dari batang, lebar 1-8 mm, datar, dan berkerut di tepi dan rusuk utama; pelepah daun berwarna hijau sampai coklat kemerahan dan membungkus batang di pangkalan (CABI International).

Penyebaran

Cyperus iria  merupakan gulma tahunan yang memperbanyak  diri  secara  generatif  melalui  biji. Satu gulma ini dapat menghasilkan biji hingga 5000 biji. 40% dari biji segar tersebut dapat berkecambah dengan segera. Biji gulma ini berkecambah dengan baik di permukaan tanah tetapi kurang mampu berkecambah di genangan air (CABI International).

Kompetisi

Cyperus iria seperti halnya dengan gulma teki-tekian lain merupakan gulma yang mendominasi di lahan tanaman padi khususnya padi gogo. Gulma ini berbahaya karena memiliki kemampuan memperbanyak diri secara cepat dan juga dapat mengeluarkan senyawa alelopati yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman di sekitarnya. Penurunan hasil akibat adanya kompetisi dengan gulma ini dapat mencapai 29-61 % (Setyowati dkk., 2001).

Pengendalian

Sama halnya dengan gulma lain yang menyerang padi sawah, gulma Cyperus iria juga dapat ditekan sejak awal yaitu dengan melakukan pembersihan lahan sawah yang akan digarap sebelum dibajak. Penggenangan lahan sawah dan pengaturan air yang tepat dapat menekan jumlah populasi gulma ini. Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan pestisida dapat dilakukan jika masih ditemukan gulma pada pertanaman padi ketika padi mulai tumbuh.

Pestisida yang efektif untuk mengendalikan gulma  Cyperus iria  yaitu herbisida berbahan aktif sodium bispiribak (AVATAR 400 SC, SALVATORE 12/18 WP) dan 2-4 D (ABOLISI 865 SL). AVATAR 400 SC dan SALVATORE 12/18 WP diaplikasikan ketika padi berumur 7-10 HST atau daun gulma tidak lebih dari 3 daun dengan konsentrasi 1-2 ml/l untuk AVATAR dan 80-100 gr/ha untuk SALVATORE 12/18 WP. ABOLISI 865 SL diaplikasikan ketika padi berumur 20-30 HST atau sebelum pemupukan kedua dengan konsentrasi 2-3 ml/l.

  • Monochoria vaginalis

Monochoria vaginalis

Nama Ilmiah : Monochoria vaginalis Burm. F. Presi

Nama Umum : Wewehan (jawa), Eceng padi, Pico-Pico (bugis)

Morfologi

Monochoria vaginalis merupakan salah satu gulma utama di pertanaman padi yang termasuk ke dalam golongan gulma berdaun lebar. Gulma ini mempunyai rimpang pendek dan menyebar dengan stolon. Tingginya 10-50 cm dan tanpa batang. Tanaman yang lebih tua biasanya membentuk rumpun besar, tetapi tidak terhubung. Pada tumbuhan yang agak tua, daunnya mengambang, linier atau lanset dan pada tumbuhan yang lebih tua, daunnya berbentuk bulat, berakumulasi tajam dengan dasar berbentuk hati atau bulat, berkilau, dan berwarna hijau tua (CABI International).

Penyebaran

M. vaginalis tergolong gulma air (akuatik) semusim di sawah yang tergenang, tetapi juga bisa tumbuh sebagai gulma tahunan (perenial) dalam kondisi banjir yang terus-menerus. Perbanyakan gulma ini kebanyakan dari biji dan sesekali dari umbi-umbian. Pembungaan dapat terjadi sepanjang tahun. Perbanyakan dan perkembangan gulma ini lebih besar pada masa awal tanam padi. Pertumbuhan gulma ini lebih tinggi pada tanah jenuh air daripada di tanah kering (CABI International).

Kompetisi

Wewehan  (Monochoria  vaginalis Burm.F.  Presi)  merupakan  salah  satu gulma penting yang tumbuh di pertanaman padi. Keberadaan gulma ini sangat merugikan  karena  dapat  menurunkan  hasil produksi padi  sebesar  17% sampai 40% (Widhikinasih, 2014).

Pengendalian

Pengendalian gulma M. vaginalis salah satunya dapat dilakukan dengan penyiangan manual ataupun dengan alat untuk menekan populasi gulma tersebut. Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan pestisida dapat dilakukan jika populasi gulma ini sudah tinggi dan tidak bisa ditekan melalui pengendalian secara manual.

Pestisida yang efektif untuk mengendalikan gulma  M. vaginalis yaitu herbisida berbahan aktif metil metsulfuron (TRENDY 20 WP/WG) dan 2-4 D (ABOLISI 865 SL). TRENDY dapat diaplikasikan melalui penyemprotan dan juga ditebar bersamaan dengan pemupukan dengan dosis 15-20 gr/ha. ABOLISI 865 SL diaplikasikan ketika padi berumur 20-30 HST atau sebelum pemupukan kedua dengan konsentrasi 2-3 ml/l.

Contoh Gulma Lainnya..

Frimbistylis miliacea (Adas-adasan; Sunduk welut) (Dokumentasi PT DGW (c) 2019)
Kerokot (Portulaca sp.) (Dokumentasi PT DGW (c) 2019)
Marsilea crenata (Semanggi) (Dokumentasi PT DGW (c) 2019)
Lepthocloa chinensis (Timunan) (Dokumentasi PT DGW (c) 2019)

Kerugian yang Ditimbulkan Oleh Gulma?

Gulma dapat menyebabkan kerugian pada bidang pertanian, dimana menurunkan kuantitas hasil tanaman. Penurunan kuantitas hasil tersebut disebabkan oleh adanya kompetisi gulma dengan tanaman dalam memperebutkan air tanah, cahaya matahari, unsur hara, ruang tumbuh dan udara yang menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat.

Di Indonesia penurunan hasil akibat gulma diperkirakan mencapai 10-20%. Sebagai contoh, biji gulma Ambrosia sp., Brassica sp., dan Agrostemma sp., bila tercampur dengan pengolahan biji gandum akan menyebabkan bau dan rasa tidak enak. Gulma juga dapat menjadi inang terhadap hama dan penyakit.

Gulma harendong (Melastoma sp.) menjadi inang hama teh Helopeltis antonii, gulma jajagoan (E. crusgalli) menjadi inang penggerek padi (Tryphoriza innotata), gulma babadotan (Ageratum conyzoides) menjadi inang hama lalat bibit kedelai (Agromyza sp.), gulma Eupathorium (Adenophorum) menjadi inang penyakit pseudomozaik virus pada tembakau, gulma ceplukan (Physalis angulata) menjadi inang penyakit virus pada kentang.

Selain sebagai inang bagi hama dan penyakit, gulma juga dapat menjadi parasit bagi tanaman budidaya padi. Sebagai contoh, gulma rumput setan dapat menjadi parasit pada tanaman jagung dan padi ladang, gulma orobanche terjadi pada padi, jagung, tebu, gandum, dan tembakau. Gulma alelopati menyebabkan penurunan pertumbuhan tanaman.

Berikut kerugian-kerugian yang ditimbukan oleh gulma, diantaranya :

  1. Persaingan antara tanaman utama sehingga mengurangi kemampuan berproduksi, terjadi persaingan dalam pengambilan air, unsur-unsur hara dari tanah, cahaya dan ruang lingkup.
  2. Pengotoran kualitas produksi pertanian, misalnya pengotoran benih oleh biji-biji gulma.
  3. Allelopathy yaitu pengeluaran senyawa kimiawi oleh gulma yang beracun bagi tanaman yang lainnya, sehingga merusak pertumbuhannya.
  4. Gangguan kelancaran pekerjaan para petani, misalnya adanya duri-duri Amaranthus spinosus, Mimosa spinosa di antara tanaman yang diusahakan.
  5. Perantara atau sumber penyakit atau hama pada tanaman, misalnya Lersia hexandra dan Cynodon dactylon merupakan tumbuhan inang hama ganjur pada padi.
  6. Gangguan kesehatan manusia, misalnya ada suatu gulma yang tepung sarinya menyebabkan alergi.
  7. Kenaikkan ongkos-ongkos usaha pertanian, misalnya menambah tenaga dan waktu dalam pengerjaan tanah, penyiangan, perbaikan selokan dari gulma yang menyumbat air irigasi.
  8. Gulma air mngurangi efisiensi sistem irigasi, yang paling mengganggu dan tersebar luas ialah eceng gondok (Eichhornia crssipes). Terjadi pemborosan air karena penguapan dan juga mengurangi aliran air. Kehilangan air oleh penguapan itu 7,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan air terbuka. Di Rawa Pening gulma air dapat menimbulkan pulau terapung yang mengganggu penetrasi sinar matahari ke permukaan air, mengurangi zat oksigen dalam air dan menurunkan produktivitas air.
  9. Dalam kurun waktu yang panjang kerugian akibat gulma dapat lebih besar daripada kerugian akibat hama atau penyakit. Di negara-negara sedang berkembang (Indonesia, India, Filipina, Thailand) kerugian akibat gulma sama besarnya dengan kerugian akibat hama.

Cara Mengendalikan Gulma?

Pengendalian gulma merupakan cara terbaik untuk menekan laju perkembangbiakan gulma agar tidak mengganggu budidaya tanaman. Cara mengendalikan gulma bisa dilakukan pada waktu yang tepat, seperti kritis tanaman, yaitu periode dimana tanaman peka terhadap faktor lingkungan. Periode ini biasanya terjadi skitar umur 1/4 – 1/2 umur tanaman. Oleh karena itu, ketahui cara mengendalikan gulma secara umum.

  • Secara mekanis (Fisik)

Secara tradisional petani mengendalikan gulma dengan alat-alat pertanian melalui kegiatan pengolahan tanah, pembabatan (pemangkas), penggenangan, pembakaran dan penggunaan mulsa. Pengendalian ini dilakukan dengan cara membajak, menyisir, dan meratakan tanah. Untuk menghemat biaya yang dikeluarkan, bisa

Petani menggunakan tenaga ternak atau mesin untuk menghemat biaya yang dikeluarkan. Lahan disiapkan dengan mematikan gulma terlebih dahulu menggunakan herbisida. Pembajakan dapat dilakukan secara berangsur, tergantung ketersediaan lahan marjinal dan lahan miring yang bersifat rapuh terhadap tanah.

Cara mekains lebih mengedepankan kepedulian lingkungan dalam pengelolaan sistem tanam agar terhindar dari gulma. Cara ini terlbilang efektif, karena mengedukasi petani agar lebih terpadu dalam mengelola lahan pertanian. Hasilnya bisa membuat hasil panen lebih meningkat dan lebih banyak.

  • Secara biologi (Preventif)

Pengendalian biologi dilakukan dengan menekan populasi gulma dengan musuh alami seperti  insekta, fungi, ternak, ikan, dan sebagainya sehingga keberadaan gulma sudah tidak lagi merugikan. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mempelajari interaksi antara tanaman dan gulma. Terutama persaingan relatif dari tanaman selama fase perkembangan gulma. Berikut upaya-upaya yang dilakukan untuk pencegahan preventif yaitu :

  1. Pembersihan lahan dari gulma sebelum membudidayakan tanaman.
  2. Penyeleksian atau pemisahan biji gulma yang mungkin ikut tercampur di benih atau yang melekat pada alat-alat pertanian.
  3. Penggunaan pupuk kandang yang sudah matang guna mencegah kontaminasi biji gulma.
  4. Pencegahan pengangkutan tanaman, tanah maupun benda yang memberikan potensi pemindahan biji gulma maupun gulma ke lahan budidaya.
  • Secara kimiawi (Herbisida)

Pengendalian gulma cara kimiawi biasa menggunakan herbisida. Cara ini efektif dilakukan karena dapat mengemat waktu dan tenaga. Herbisida memiliki efektivitas yang beragam, seperti herbisida kontak mematikan bagian tumbuhan yang terkena dan herbisida sistemik mematikan setelah diserap oleh unsur gulma.

Pengaplikasian herbisida sebaiknya dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 07.00 – 08.00 WIB, lalu sesuaikan dengan kondisi angin dan curah hujan. Penggunaan herbisida secara terus menerus juga dapat merugikan lahan pertanian, seperti keracunan tanaman dan hewan pembajak awah.

Herbisida berbahan aktif seperti glifosat, paraquat, dan 2,4-D banyak digunakan oleh petani. Bahan aktif yang disemprotkan ke daun dapat mengendalikan gulma rumputan dan gulma daun lebar. Senyawa glifosat sangat mematikan, ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman yang terurai ke dalam tanah.

Penggolongan Herbisida terdiri atas 2 yaitu Selektif dan Non Selektif. Pada herbisida aktif berfungsi untuk mematikan gulma tertentu saja contohnya Ametrin, Diuron, Oksifluorfen, Klomazon dan Karfentrazon. Berikut produk herbisida selektif dari PT. DGW yang dapat digunakan pada lahan pertanian :

Abolisi (2,4 D dimetil amina 865 g/l)
Abolisi (2,4 D dimetil amina 865 g/l)
Salvatore 12/18 WP (Metil bensulfuron 12% + Sodium bispiribak 18%)
Salvatore 12/18 WP (Metil bensulfuron 12% + Sodium bispiribak 18%)
Avatar 400 SC (Sodium bispiribak 400 g/l)
Avatar 400 SC (Sodium bispiribak 400 g/l)
Trendy 20 (Metil metsulfuron 20%)
Trendy 20 (Metil metsulfuron 20%)

Kesimpulan

Cara mengendalikan gulma harus dilakukan agar gulma tidak bisa muncul lagi. Cara ini bisa dilakukan dengan menggunakan teknik mekanis, biologis, dan kimiawi (Herbisida). Kita bisa menggunakan produk herbisida berkualitas dari DGW seperti Abolisi, Salvatore 12/18 WP, Avatar 400 SC, dan Trendy 20. Herbisida ini sangat ampuh dalam membasmi gulma.

Baca Juga : Mengenal Gulma Tanaman Pada Lahan Pertanian

Demikian Cara Mengendalikan Gulma Pada Tanaman Padi.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk seluruh Sobat Tani dimanapun berada.

One thought on “Cara Mengendalikan Gulma Pada Tanaman Padi

  1. Aco says:

    Salvatore banyak dipake sama petani di Sengkang. Saya pake Salvatore gulmanya bersih dan gulma baru tidak tumbuh. Sukses terus petani muda Indonesia. Salam dari Sengkang Kota Sutera

Comments are closed.

error: Content is Protected!!